Dear bunda yg terkasih di sorga
Bunda,,,,tanpa terasa waktu terus berjalan dan meninggalkan kenangan yg mendalam antara kita berdua
14 tahun senyummu menghilang dari mataku,,,namun terus menerawang tembus dipikiranku
Aku masih ingat Bunda,,,,
Kala bunda bertutur menasehatiku agar aku menjadi semakin lebih baik untuk kedepannya
Aku masih ingat Bunda,,,,
Kala bunda murka dan melengkingkan suara tinggi memekakkan telingaku
Aku masih ingat Bunda,,,
Ketika kau terdiam menitikkan air matamu tatkala kau sedih kehilangan seorang putramu berpulang mendahuluimu
Aku masih ingat Bunda,,,,
Ketika tertawa lebarmu begitu khas dan memecahkan suasana hening
Aku masih ingat Bunda,,,,
Betapa semangatnya kau mengulurkan tanganmu membopong org2 yg tak mampu disekitarmu
Aku masih ingat Bunda,,,,
Ketika aku terbaring lemas karena sakit,,,kau basuhkan tanganmu dikepalaku dg handuk dingin itu
Aku masih ingat Bunda,,,,
Suara merdumu melantunkan lagu2 indah kesayanganmu mengajakku menyenandungkan bersama
Aku masih ingat Bunda,,,
kala aku sedih dan kau menghampiriku dan mendekapku erat-erat
Bagaimana aku bisa lupa dengan itu semua,,,Bunda,,,,
bahkan aku menuliskan surat ini untukmu dengan derai-an air mata
bahkan aku tak sanggup lagi berkata apa2 untuk mengungkapkan kenangan2 itu semua
Cintaku padamu Bunda,,,hingga detik ini tak berkurang sedikitpun
Kemana aku harus bisa mendatangimu,,,,dan suatu keharusan aku kehilangan mu
Ketika rindu menyengat,,,mataku kukatupkan dalam2 dan kutembus bayangan itu untuk menghampiri selintas rona wajahmu,,,dengan senyummu yg sangat dalam
Bunda,,,,aku rindu padamu,,,,
Bunda,,,,Aku menangisimu hari ini untuk bisa memeluk mu
Doa ku dalam hari-hariku selalu menyebutkan namamu
Selalu kupanggil namamu
Selalu kukirimkan lafal Alfateha dan yasiin untukmu
Selalu demikian dari hari ke hari
Dan aku berharap Bunda membaca suratku ini dan kau mau hadir didalam mimpi2ku disetiap aku tidur,,,
hanya itu yg kuharap darimu Bunda dan permintaan ijinku pada Mu yaa allah
untuk meluluskan harapan dan angan2ku untuk Bunda
Amin
Senin, 27 April 2009
Jumat, 10 April 2009
Hingga
Ketika itu aku berada pada ambang ketakutan, berhalusinasi dan menerawang kedepan serta membayangkan bagaimana diriku 'kan nantinya.
Ketika itu aku tediam dan membisu tanpa keyakinan, berharap akankah dapat menempuhnya pada titik yg diinginkan orang-orang pada umumnya
Ketika itu aku belum bisa mendapatkan apa yg seharusnya aku bisa dapatkan.
Ketika itu hanyalah angan-angan belaka, apa dan bagaimana aku belum bisa merabanya
Ketika itu aku berhari-hari tidak bisa meyakinkan diriku unt bisa berjalan tegap, semakin aku menjadi takut, dan semakin aku menjadi kerdil bagi diriku sendiri
Ketika itu hatiku serasa ingin berteriak,aku tak ada kekuatan yg bisa mengangkat diriku sendiri
Ketika itu semakin sulit rasanya diri ini untuk bisa bernafas lega
Ketika itu aku bahkan tidak bisa berucap jujur pada diri sendiri akan kenyataan hidupku sa'at itu
Ketika itu aku serasa berlari dan berjalan ditempat, bahkan ruang gerakku pun begitu sangat terbatas
Ketika itu seakan dengan mudahnya diri ini untuk meneteskan linangan air mata
Ketika itu dadaku begitu penuh dan berjejal dengan segala keluh yg terkumpul
Ketika itu hampir seakan-akan hidup ini tak tergambarkan dan tak terlukiskan indah
Masih juga ketika itu hati ini mengapung tak berdaya
Ketika itu tiada pijakan yg kokoh pada kaki-kaki ku
Sadar diri ini tiada kemampuan berteriak atau mendongakkan kepala
dan sadar diri ini tiada sandaran kuat yg menjadikan tubuh berdiri tegap
Aku cobakan langkah-langkah kecil ini menuntun jalan hidupku
Berpegang teguh dengan kemampuan seadanya agar bisa mengepakkan sayap
keterpurukan demi keterpurukan yg menghadang bak tembok raksasa serasa
aku pecahkan dengan keyakinanku sendiri
Aku mulai bergumam lantang walau yg tersisa didalam diri cuma sebongkah
Aku paksakan diri berjalan tegap memandang arah tujuan yg mulai tercerna
Dan tanpa terasa aku mulai berjalan meninggalkan batas-batas kesengsaraan
Tangisku yg dulu menyesakkan dada kini terurai menjadi picuan semangat akan hidupku
Hingga pada akhirnya kutemukan cahaya yg aku harapkan dan impikan menerangi asa ku
Tidak ada saksi dalam hidupku kecuali hati dan jiwaku yg menemani setia dalam kehidupanku
Dan hingga kini tanpa terasa aku mulai bersandar pada tembok yg kukuh dan pada pijakan yg kuat
Seribu ucapan syukur alhamdulillah tak cukup untuk menghiasi segala perjuanganku
Kalaupun aku kini berpaling kearah titik awal hidupku, mungkin aku kan berujar "tak sanggup lah untuk kembali lagi"
Dan hingga kini aku berdiam mensyukuri nikmat yg Kau beri ya Allah,,,,
Dan Hingga kini aku menjadi sesuatu atas karuniaMu
Ketika itu aku tediam dan membisu tanpa keyakinan, berharap akankah dapat menempuhnya pada titik yg diinginkan orang-orang pada umumnya
Ketika itu aku belum bisa mendapatkan apa yg seharusnya aku bisa dapatkan.
Ketika itu hanyalah angan-angan belaka, apa dan bagaimana aku belum bisa merabanya
Ketika itu aku berhari-hari tidak bisa meyakinkan diriku unt bisa berjalan tegap, semakin aku menjadi takut, dan semakin aku menjadi kerdil bagi diriku sendiri
Ketika itu hatiku serasa ingin berteriak,aku tak ada kekuatan yg bisa mengangkat diriku sendiri
Ketika itu semakin sulit rasanya diri ini untuk bisa bernafas lega
Ketika itu aku bahkan tidak bisa berucap jujur pada diri sendiri akan kenyataan hidupku sa'at itu
Ketika itu aku serasa berlari dan berjalan ditempat, bahkan ruang gerakku pun begitu sangat terbatas
Ketika itu seakan dengan mudahnya diri ini untuk meneteskan linangan air mata
Ketika itu dadaku begitu penuh dan berjejal dengan segala keluh yg terkumpul
Ketika itu hampir seakan-akan hidup ini tak tergambarkan dan tak terlukiskan indah
Masih juga ketika itu hati ini mengapung tak berdaya
Ketika itu tiada pijakan yg kokoh pada kaki-kaki ku
Sadar diri ini tiada kemampuan berteriak atau mendongakkan kepala
dan sadar diri ini tiada sandaran kuat yg menjadikan tubuh berdiri tegap
Aku cobakan langkah-langkah kecil ini menuntun jalan hidupku
Berpegang teguh dengan kemampuan seadanya agar bisa mengepakkan sayap
keterpurukan demi keterpurukan yg menghadang bak tembok raksasa serasa
aku pecahkan dengan keyakinanku sendiri
Aku mulai bergumam lantang walau yg tersisa didalam diri cuma sebongkah
Aku paksakan diri berjalan tegap memandang arah tujuan yg mulai tercerna
Dan tanpa terasa aku mulai berjalan meninggalkan batas-batas kesengsaraan
Tangisku yg dulu menyesakkan dada kini terurai menjadi picuan semangat akan hidupku
Hingga pada akhirnya kutemukan cahaya yg aku harapkan dan impikan menerangi asa ku
Tidak ada saksi dalam hidupku kecuali hati dan jiwaku yg menemani setia dalam kehidupanku
Dan hingga kini tanpa terasa aku mulai bersandar pada tembok yg kukuh dan pada pijakan yg kuat
Seribu ucapan syukur alhamdulillah tak cukup untuk menghiasi segala perjuanganku
Kalaupun aku kini berpaling kearah titik awal hidupku, mungkin aku kan berujar "tak sanggup lah untuk kembali lagi"
Dan hingga kini aku berdiam mensyukuri nikmat yg Kau beri ya Allah,,,,
Dan Hingga kini aku menjadi sesuatu atas karuniaMu
Langganan:
Postingan (Atom)